Select Language



Followers

IT Programmer. Powered by Blogger.

13 May 2010

Media Sekolah dalam Pengembangan Kreasi Jurnalistik

"Om Swastiastu"

Media merupakan sarana yang digunakan untuk menghubungkan satu hal dengan yang lainnya. Misalnya saja, seorang guru yang sedang mengajar di dalam kelas mempergunakan beragam media untuk menerangkan materi , baik yang berbentuk audio maupun visual, agar siswa dapat lebih cepat menyerap pelajaran. Media dalam tulisan ini berarti sarana yang dipergunakan oleh seluruh warga sekolah dalam mengkomunikasikan segala yang ada di sekolah. Dengan media tersebut, berbagai permasalahan yang menyangkut kegiatan sekolah dapat disampaikan dan diselesaikan secara efektif. Artinya, bahwa media sekolah ini mampu melayani informasi secara terbuka kepada sekolah dengan cepat, baik menyangkut program dan hal-hal baru yang patut diketahui oleh segenap pihak keluarga sekolah.

Media ini juga mampu mengembangkan potensi siswa dalam pembelajaran literasi, yaitu membaca dan menulis. Untuk itu, sekolah yang disebut sebagai pencetak generasi penerus yang berwawasan dan berbudi pekerti luhur sudah sepatutnyalah mengembangkan dan melengkapi media-media untuk kelancaran proses kegiatan sekolah.
Hal lain yang merupakan manfaat dari sebuah media adalah mampu menumbuhkembangkan minat membaca dan menulis siswa. Dari media sekolah inilah akan bermunculan potensi-potensi siswa dalam hal menulis. Mereka mempunyai wadah juga tempat untuk berekspresi  dan mengeksplor kemampuannya tanpa harus merasa takut karya mereka akan dinilai buruk dan dibuang begitu saja. Dengan demikian, sekolah telah memfungsikan diri sebagai tempat pembentukan generasi dengan kreativitas mereka masing-masing dari berbagai bidang.
Media sekolah saat ini bukan lagi menjadi kebutuhan sekunder, tetapi  sudah merambah menjadi kebutuhan primer. Ada beberapa manfaat yang dapat dipetik jika tersedianya media sekolah, yaitu:
1.    Menumbuhkembangkan minaat membaca dan menulis
Dengan adanya media sekolah, minat membaca dan menulis siswa akan semakin meningkat, sebab mereka merasa dihargai akan setiap karya yang mereka hasilkan dari buah pikiran menulis dan membaca. Karya mereka yang lugas dan orisinil akan mendapat tempat. Karena banyak membaca, mereka akan mendapatkan bahan untuk menulis. Tentunya ini mengurangi dominansi televisi yang kerap kali menjadi media hiburan para siswa di waktu senggang.
2.    Menjadi sarana komunikasi
Media sekolah dapat digunakan sebagai sarana komunikasi yang efektif. Program-program baru sekolah dapat disampaikan melalui media sekolah yang selanjutnya akan diinformasikan kepada siswa dan media tersebut dapat menjadi referensi bagi para orang tua tentang perkembangan sekolah.

Media sekolah memang banyak ragamnya. Ada media sekolah yang bersifat permanen, ada pula yang bersifat fleksibel. Ada media yang berbentuk tulis dan cetak, maupun elektronika.
Majalah dinding sebagai media sekolah permanen kerap kali dijumpai di dinding-dinding sekolah. Ada yang dikemas cukup sederhana, ada pula yang dikemas sedemikian rupa hingga betah memandanginya berlama-lama untuk dibaca.
Media sekolah yang bersifat fleksibel misalnya bulletin atau majalah sekolah. Seperti halnya majalah dinding, bulletin dan majalah sekolah dikemas dalam bentuk yang sangat menarik. Bulletin dan majalah tersebut menyasar pada subyek sesuai tujuannya. Misalnya majalah untuk siswa, orang tua, atau sesama guru yang didistribusikan ke seluruh warga sekolah bahkan ke luar sekolah.
1.    Majalah Dinding
Majalah dinding bukanlah hal yang baru dalam dunia pendidikan. Majalah dinding sudah sering kita dengar. Majalah ini merupakan sebuah karya yang ditempelkan pada dinding yang tidak dapat dipindahkan. Majalah dinding yang dibuat di sekolah terbagi dalam beberapa jenis, misalnya majalah dinding yang menampilkan informasi sekolah yang dipajang strategis di luar kelas agar dapat dibaca oleh semua komponen warga sekolah. Majalah dinding semacam ini bersifat umum, artinya siapapun diperkenankan menampilkan karyanya dalam majalah dinding ini.

Beda halnya dengan majalah dinding kelas. Mading ini hanya dikelola oleh setiap kelas yang dipajang di luar dinding kelas. Info yang disampaikan biasanya mengenai kelas itu sendiri. Begitu pula dengan hasil karyanya yang hanya diisi oleh kelas yang bersangkutan.
Setiap sekolah seharusnya mampu mengembangkan media sekolah secara optimal, minimal membuat majalah dinding. Selain biaya yang relatif murah atau ada bahkan yang mempergunakan barang-barang bekas yang didaur ulang, manfaatnya cukup efektif dalam membuat siswa lebih apresiatif terhadap karya tulis yang ada dan lebih termotivasi untuk membuat karya yang lebih berbobot, sehingga rasa kompetisi yang dimiliki siswa semakin meningkat
Dengan majalah dinding, siswa dilatih untuk bertanggungjawab untuk mengelola dan merancang sebaik-baiknya. Peran guru pembimbing hanyalah sebagai motivator dan fasilitator agar minat menulis siswa terus berkembang di bidang jurnalistik. Meskipun media ini terbilang sederhana, tapi wajib dikelola dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat majalah dinding. Mulailah dari hal-hal yang sederhana, karena segala sesuatunya akan berjalan santai dan menyenangkan.
•    Mengkomunikasikannya dengan guru Pembina
•    Menentukan tema majalah dinding
•    Menyiapkan tim redaksi
•    Menentukan isi majalah dinding, biasanya tentang Salam Redaksi. Laporan Utama, Laporan Khusus, Profil dan Opini, Puisi, Cerpen, Humor dan Karikatur, Artikel, Horoskop atau Ramalan Bintang
•    Evaluasi.
Sekolah-sekolah yang sudah mempunyai majalah dinding sebaiknya kualitasnya terus ditingkatkan. Dari majalah dinding tersebut, hendaknya mampu menelurkan kegiatan positif yang berkelanjutan, misalnya lomba majalah dinding antarkelas, atau lomba puisi, cerpen, karikatur dan artikel antarkelas. Itu semua merupakan pelatihan dasar bagi siswa dalam ilmu jurnalistik sebagai bentuk pengaktualisasian diri.
2.    Buletin Sekolah
Salah satu bentuk media informasi lainnya yang ada di sekolah adalah bulletin sekolah. Bulletin sangat sederhana, bentuknya berupa lembaran-lembaran yang terdiri dari beberapa halaman saja dan informasi yang disuguhkan singkat, padat dan jelas. Meskipun bentuknya sangat sederhana, bulletin harus ditangani secara serius seperti media-media lainnya, terlebih bulletin adalah salah satu jenis media yang bersifat fleksibel.
Jika majalah dinding tidak banyak memerlukan biaya, maka bulletin ini memerlukan anggaran khusus Karena setiap kali terbit harus melalui jasa percetakan. Selain itu, naskah-naskah yang dimuat juga harus diedit terlebih dahulu oleh editor. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman konsep yang akan ditampilkan dalam bulletin tersebut. Namun masih jarang kita jumpai sekolah-sekolah yang mengeluarkan bulletin sebagai media informasi.
3.    Majalah Sekolah
Mendengar kata majalah, gambaran yang muncul di dalam pikiran kita adalah majalah yang saat ini beredar di masyarakat, misalnya Bobo, KaWanku, Gadis, dan lain-lain. Jika dilihat dari bentuknya, majalah memang berbentuk demikian. Ada cover atau sampul, ada daftar isi, dan ada iklan dalam majalah tersebut. Majalah sekolah berbeda dengan majalah dinding dan bulletin. Untuk membuat majalah sekolah, banyak perangkat yang perlu disiapkan. Hal ini karena menyangkut banyak hal, yakni dana, tenaga dan pendistribusian. Dana menjadi hal yang paling mendasar dalam pembuatan majalah sekolah, karena dana tersebut dipergunakan dalam beberapa hal berikut:
•    Dana untuk percetakan
•    Dana untuk honor penulis
•    Dana untuk keperluan operasional lainnya
Sebagai sekolah yang hendak membuat majalah sekolah, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengelola sebuah majalah sekolah, antara lain:
•    Membuat struktur majalah sekolah (tim redaksi)
•    Menentukan tema, isi dan sampul majalah
•    Merangkum data adventorial, dengan kata lain mencari pihak sponsor yang bersedia memasang iklan di majalah sekolah tersebut
•    Menyusun proposal adventorial
•    Merangkum honor penulis

Dari media-media yang tersedia tersebut, diharapkan siswa dapat mengembangkan kreativitasnya dalam dunia tulis menulis dan kejurnalistikan dan belajar untuk mengelola media yang ada dengan baik, sehingga tercipta pribadi yang sarat potensi. Selamat berkarya!

"Om Santhi, Santhi, Santhi, Om"



Comments:

Ada 2 comments pada “Media Sekolah dalam Pengembangan Kreasi Jurnalistik”
wayan said...
pada hari 

mantep bgt info'na... jd memotivasi saya untuk menulis lagi... thank'z info'na...

Muzzy Musthofa said...
pada hari 

di manapun, media sangat di perlukan untuk menjembatani omongan seseorang

Social Media


Facebook Page

Programming Tutorial


Info


Tips
Downloads
Friends
 
This Blog is proudly powered by Blogger.com | Template by Bali Web Development | Privacy Policy | Rise Up!!